2 Mei 2011

Ku Menunggu

Sudah Dua jam aku duduk di café ini. Selama itu pula, sudah banyak pengunjung yang berlalu lalang di hadapanku. Namun, aku tak merasakan kebosanan sedikitpun. Sesekali aku melirik jam tangan mungil di pergelangan tanganku. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Rupanya sesosok laki-laki itu belum tiba juga di sini, tak seperti biasanya.
Entahlah aku tak tahu. Saat dua minggu yang lalu aku berkunjung ke cafe ini, aku lebih intens mengunjungi cafe bernuansa Belanda ini. Alasannya adalah laki-laki itu. Laki-laki berumur sekitar 27 tahunan yang benar-benar mempesonaku. Selain tampan, bersahaja, aku melihat dia sebagai ssosok lak-laki yang begitu care terhadap wanita. Yah, meski aku melihatnya saat ia berkunjung ke cafe ini dengan teman wanitanya. Entahlah aku tahu apakah dia adalah kekasihnya atau mungkin hanya teman biasa. Aku harap sih dia hanya teman biasa.
Tak beberapa lama kemudian, Handy, laki-laki yang telah mencncuri hatiku itu tiba. Malam ini, dia terlihat begitu gagah. Hem pendek berwarna biru polos dengan celana jins berwarna hitam semakin menunjuang penamilannya yang begitu menarik perhatianku. Sesegera mungkin aku meraih cermin kecil yang ada di dalam tas kecilku yang sering kubawa saat pergi. Aku merapikan rambutku. Ku perhatikan bibirku dan bagian wajahku agar saat menyapanya aku merasa lebih percaya diri.
“Oh Tuhan... tolong lancarkan aku untuk menganlnya,” doaku smabil menggennggam tangan persis di depan dadaku.
Belum sempat aku melangkahkan kakiku beranjak dari kursi. Ku lihat seorang pria dengan badan yang atletis yang menurutku mirip dengan Samuel Rizal, datang menghampirinya. Mereka berjabat tangan. Kulihat keceriaan di wajah kedua laki-laki yang usianya sepantaran itu. seketika itu pula, rasa percaya diriku untuk menghampirinya runtuh. Runtuh karena laki-laki lain yang menghampirinya itu. Belum selesai kekecewaanku, tiba-tiba, mataku menangkap tangan mereka sedang mengenggam satu sama lain. Dan lebih parahnya lagi, Handy mencium tangan laki-laki itu. Benar-benar hancur hatiku. Ternyata penantianku selama ini benar-benar telah sia-sia. Haruskah ku masih menunggunya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar