2 Mei 2011

Reve (impian)


Aku termangu di depan jendela kamarku. Ku pandangi halaman samping rumahku. Suara gemericik hujan yang turun meneyerbu bumi terdengar begitu syahdu bernada. Daun-daun bergerak diterpa titik-titik hujan yang semakin deras jatuh dari langit. Percikan titik hujan itu melekat juga pada jendela kamarku. Sesekali aku menggoreskan jariku pada jendela yang telah berembun itu. Aku menuliskan kata ”I can get my future with myself”. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa aku menulis seperti itu. Akhir-akhir ini, aku memang merasa lebih dewasa, lebih memikirkan masa depanku. Bagiku itu penting, karena memiliki rancangan untuk masa depan adalah salah satu tujuan di dalam hidip ini. Kalo ga punya rancangan masa depan, mungkin semua orang akan bingung menentukan jalan mereka.
Sebenarnya, bukan hanaya itu alasan yang membuat otakku berpikir lebih keras mengenai masa depan. Tapi, tentang prestasiku di sekolah selama ini. Ya, prestasi yang menurutku sangat penting. Tapi, itu juga baru aku sadari belum lama ini. Selama ini, aku sekolah hanya untuk makan di kantin, ngobrol bareng teman, ngerjain PR di sekolah, nyontek pekerjaan teman dan bangga banget kalo misalnya harus ngulang ujian harian. Gak ada yang bisa dibanggain dari diriku sendiri. Tapi, dari sekian banyak anak yang melakukan hal itu, mungkin aku bagian dari beberapa yang beruntung karena meski aku juga sama seperti mereka, aku termasuk anak yang jarang ngulang ujian karena aku selalu mempersiapkan contekan kecil agar aku bisa mengerjakan soal dengan mudah. Hem, sekali lagi ini gak bisa dibanggakan dari aku, Aditya Gustaf Al Ichsani.
Waktu, berlalu, jarum panjang jam dinding di kamar menunjuk ke angka sebelas dan jarum pendek menunjuk angka lima. Aku kembali duduk di depan jendela kamarku. Hujan masih belum reda. Lampu taman yang malam itu bersinar temaram sangat membuat suasana menjadi hangat. Aku menggoreskan kembali tulisan ”I can get my future with myself” di jendela kamarku. Lama setelah itu. Aku memandangi lampu temaram di taman. Sepi. Senyap. Syahdu. Tenang. Damai. Hal yang begitu nyaman aku rasakan ditengah kegalauan yang aku rasa.
Aku menatap secarik kertas daftar penerima SNMPTN Undangan (jalur masuk Perguruan Tinggi tanpa tes). Miris rasanya jika aku membacanya karena tak ada namaku di sana. Sebenarnya aku bisa mendapatkan SNMPTN Undangan karena beberapa temanku memilih untuk tidak mengambilnya dan aku bisa menggantikan posisinya karena rangking ku bisa naik. Tapi, semua itu aku abaikan, aku terlanjur ilfil untuk mengambilnya. Semua itu karena ada seseorang yang membuatku benar-benar malas untuk mengambil kesempatan tersebut. Parahnya lagi, orang tersebut tak lain adalah sahabatku sendiri. Entahlah, dia sadar atau tidak yang pasti secara gak langsung dia telah membuatku kesal. Mungkin tak sepenuhnya aku menyalahkan siapa-siapa, sebenranya aku juga harus mengoreksi diriku, aku jadi menyesal karena aku tidak bisa belajar dan meningkatkan nilai raportku. Andai saja aku masuk sepuluh besar di kelas, mungkin gak seperti ini keadaannya. Tapi, semua telah terlanjur terjadi, gak baik berlama-lama larut dalam penyesalan.
Malam semakin larut, aku benar-benar tak merasakan kantuk sama sekali. Aku masih tetap dalam posisiku semula. Malam ini semakin sunyi dan tenang. Semua anggota keluargaku telah naik ke atas singgasananya untuk beristirahat. Aku senang dengan suasana malam ini, bagiku suasana malam ini benar-benar malam yang tak pernah aku temui dengan malam-malam yang lain. Hujan, cahaya lampu yang temaram dan kesunyian, benar-benar membuat pikiranku menjadi lebih tenang ditengah masalah rumit yang aku hadapi. Aku menoleh ke arah meja belajar yang ada di sebelahku. Aku menekan tombol play pada tape recorder yang berdiri kesepian. Terdengar lagu Jangan Menyerah yang dinyanyikan oleh D’Massiv mengalun pelan. Aku mengikuti lagu tersebut dari awal. Saat, mendekati Reff, aku rasakan suaraku bergetar, air mataku menetes. Aku sudah benar-benar tak tahan dengan emosi yang terlalu lama aku simpan. Aku juga merasa sudah tak bisa lagi menggapai cita-cita yang aku harapkan. Sebenarnya, beberapa hari ini aku bukan hanya memikirkan tentang gagalnya aku mendapatkan SNMPTN Undangan namun, aku juga sudah tidak bisa mewujudkan impianku untuk menjadi dokter. Ya, aku memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi dokter. Tapi, utuk memilih jurusan yang satu ini membuat aku berpikir seribu kali. Orangtuaku rasanya tak sanggup membiayai kuliahku nanti jika aku memilih jurusan yang satu ini karena aku tahu penghasilan orang tuaku lumayan mencukupi tapi, untuk membiayai kuliahku nanti ( jurusan Kedokteran) rasa-rasanya masih belum bisa. Tuhan, aku ingin mewujudkan mimipiku untuk menjdai dokter! Namun, aku hanya manusia biasa yang tak bisa mewujudkan apapun yang ingin aku wujudkan. Tapi, aku tahu Tuhan pasti memiliki rencana indah dibalik semua ini. Ya, rencana indah tak terduga yang tak ada satu orangpun mampu mengetahuinya sebelum mereka mengalami apa yang Tuhan rencanakan untuk kita. Aku jadi teringat status teman di Facebook yang bilang, ” I know not everyone can make their dreams comes true but, I don’t know that God has great plans for us (who can’t make their dreams comes true)”. Ada benarnya juga sih, mulai sekarang aku akan menujukkan bahwa aku juga bisa menjadi sukses lebih dari orang yang selama ini memandangku sebelah mata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar