2 Mei 2011

Mabuk Kepayang

Jam tujuh lewat enam menit. Pagi ini, gue udah siap-siap pergi meninggalkan rumah, untuk mengikuti try out SNMPTN yang diselenggarakan oleh salah satu Universitas Negeri di kota gue. Gak biasanya nih, liburan ini gue pake pakaian rapi seperti ini. Biasanya, kalo jam tujuh pagi dan saat libur, gue masih enak-enakan tidur di kamar. Maklum, udah kebiasaan dari kecil suka males-malesan di kamar tidur, apalagi kalo weekend.

Sambil berusaha memasang jam tangan, gue memperhatikan penampilan gue di depan kaca. Sesekali gue merapikan hem warna ungu yang gue kenakan. Tak ada bosan-bosannya gue menatap wajah gue yang tampan ini. Hehehe eits, bukannya sombong atau apa, tapi ini kenyataan kok, gue memang punya tampang yang super tampan. Hehehe lebay! Buktinya aja, gue pernah jadi juara cover boy, itupun dengan cara nyogok juri pake nyanyian Keong Racun. Usai mempertampan diri di kamar, gue menyambar tas ungu milik gue lalu keluar kamar dan memasang sepatu warna ungu. O ya, jangan heran kalo pagi ini dari baju, sepatu, tas, HP hingga kontak motor gue warnanya ungu, soalnya gue tuh termasuk salah satu fans Ungu band, yang lebih terkenal dengan sebutan cliquers. Tahu kan sama Ungu band? Itu lho yang vokalisnya mirip gue? Hmmm... kalo ngomongin tentang Ungu band, mungkin gak ada habisnya karena gue memang fans berat band yang satu ini. Satu-satunya alasan kenapa gue menyukai band Ungu, karena bagi gue Ungu adalah inspirator dalam hidup gue, mulai dari cerita para personilnya, lagu-lagu yang mereka ciptakan hingga cara mereka mengaransement musik saat mereka show. Pokoknya, Ungu is the best band in Indonesia deh. Lha kok pada ngomongin Ungu ya?!



***



Jam sembilan kurang lima belas menit gue sudah tiba di SMA Pramudhita yang merupakan SMA favorit di kota tempat gue tinggal, Bandung. Pagi ini, banyak siswa yang memadati halaman sekolah tersebut tak terkecuali gue dan beberapa teman gue yang lainnya. Sebelum try out dimulai, gue dan teman gue duduk santai di halaman depan SMA tersebut.

“Gila, gue gak nyangka kalo di sini kita bakal ketemu sama cewek kinclong-kinclong,” komentar Daryo yang memiliki body gemuk dengan mata sipit.

“Iya, bener lo. Gue baru nyadar kalo cewek Bandung emang punya paras yang cantik, gak heran deh kalo banyak artis-artis yang berasal dari Bandung,” sahut Reno.

“Hahaha elo semua ini ada-ada aja, kita ke sini bukan mau bikin mata jelalatan tapi, mau ikutan try out.” timpal gue.

“Elo aja kali yang ikut try out gue nggak!” tegas Daryo.

“Halah, gak usah munafik deh loe, Rif. Ntar nih, gue sumpahin elo ketemu sama cewek yang ngeh di hati lo,” ujar Reno gak setuju.

“Ngeh?” ulang gue. Gak ngerti.

“Cocok.” Jawab Reno.

“O ya? Gak mungkin, gue kan udah punya gebetan di sekolah,” jawab gue.

“Siapa? Vita? Dia kan masih gebetan lo, bukan jadi pacar lo, ntar nih kalo ada cewek yang lebih dari dia di sini, gue cuma pengen bilang, say good bye to Vita hahaha,” kata Reno lagi.

“Kita liat aja ntar,” ucap gue sambil mengangkat alis bagian kiri gue.

Tepat jam sembilan pagi. Bel untuk memasuki ruangan try out berbunyi. Semua peserta langsung memasuki ruangan try out yang tertera di tiket. Gue mencari ruangan gue. Setelah berputar mengelilingi sekolah tersebut, akhirnya gue menemukan ruangan gue, ruang sebelas. Gue langsung memasuki ruangan yang telah terisi oleh beberapa peserta try out itu. Gue celingukan mencari bangku yang masih kosong. Dan, mata gue tertuju pada bangku yang berada di bagian pojok. Gue buru-buru ke bangku tersebut agar tak ada yang menempatinya. Yeps, gue mendapatkan bangku. Lalu, tak lama setelah itu, Dana –teman sekolah gue – duduk di bangku kosong di samping gue.

“Eh, Rif!” seru Dana sesaat setalah menghempaskan tubuhnya di bangku sebelah sambil mengedikkan kepalanya ke arah seorang cewek di depan gue, tepat di depan gue.

Gue menoleh ke arah cewek tersebut, gue mengerti apa yang Dana maksud, “Iya, dia juga suka sama Ungu kali,” ucap gue pelan.

Tak lama kemudian, cewek tersebut menoleh ke arah gue dan Dana. Sepertinya dia mendengar apa yang baru saja gue ucapkan. Setelah cewek tersebut kembali memalingkan mukanya, gue memperhatikan cewek tersebut. Gila! Ternyata dia juga sama-sama gilanya kayak gue!!! Eh, maksud gue sama-sama gila ke Ungu band dan warna ungu. Buktinya, dia memakai pakaian dari jepit rambut, kalung, baju, celana, sepatu, tas, kotak pensil hingga gelang semuanya serba warna ungu. Belum lagi, pin yang bergambar Ungu band yang tertempel sesak di tasnya. Huah, jadi tergugah nih untuk kenal lebih jauh sama nih cewek tapi, dasar gue-nya yang gak gentle­ buat kenalan.

Beberapa menit kemudian, try out dimulai. Gue mulai mengisi data diri yang ada di lembar jawaban. Kontan, suasana di ruangan tersebut menghening. Semua peserta try out sibuk mengisi data diri mereka masing-masing.

“Eh, seneng lo ketemu sama cewek yang satu idola sama lo?” tanya Dana yang masih sempat-sempatnya ngajakin ngobrol.

“Ah, apaan lo! Biasa aja tuh,” ucap gue, cuek.

“Elo gak usah bohong deh, udah ajak kenalan, buat nambah temen!” suruh Dana.

“Nggak, malu, gue!” tegas gue.

“Ah, gak gentle lo!” ejek Dana.

“Eh, mbak!” sapa Dana pada cewek ungu yang ada di hadapan gue itu.

Gue memelototkan mata gue pada Dana. Dana hanya memberikan senyuman, santai. Cewek tersebut langsung melihat wajah Dana.

“Mau ngapain nih anak pake nyapa-nyapa tuh cewek segala?” pikir gue.

“Ehm.... ” dengung Dana sebelum mengatakan apa-apa kepada cewek tersebut sambil mengedikan kepalanya ke arah gue.

Cewek itu langsung menoleh ke arah gue, ”Ya, ada apa?” tanya cewek tersebut.

Gue kaget, “Ah, nggak! Bukan gue, tapi dia,” ucap gue gugup sambil mengarahkan telunjuk ke arah Dana.

Dana nyengir, ”Eh, nggak, kok. Gue cuma pengen pinjem pensil doang, ada?” tanya Dana bohong.

“Maaf, gue cuma punya satu,”

“Oh, ga usah deh, sorry ganggu,” ucap Dana. Lalu cewek tersebut kembali melanjutkan mengisi data diri di lembar jawaban.



***



Malam harinya, gue tiduran di kamar. Terdengar lagu Mabuk Kepayang yang dinyanyikan oleh Ungu dari radio yang terletak di sebelah meja belajar gue. Gue meraih handphone gue saat Rio sms nanya jadi atau nggak untuk main futsal besok sore. Setelah membalas SMS dari Rio, gue ingat kejadian tadi pagi. Saat mengisi data diri di lembar absensi, diam-diam gue mencatat nomor cewek ungu yang duduk di depan gue itu. Memang, gue akui, gue penasaran sama cewek tersebut. Bukan lantaran karena dia sama-sama suka sama Ungu tapi, ada something yang membuat gue tergelitik untuk tahu lebih banyak tentang dia. Tahukah apa yang membuat gue tergelitik? Nama. Ya, nama ceewk itulah yang membuat gue tergelitik. Saat pertama gue tahu nama cewek itu dari daftar absensi, gue bener-bener kaget kalo namanya hampir sama dengan gue. Untung aja waktu itu Dana gak ngeliatin gue yang senyum-senyum sendiri saat tahu kalo nama cewek itu persis dengan nama gue. Ariva Putri Ramadhini. Huah, kalo misalnya gue sampe jadian dan nikah sama dia seru kali ya lihat nama mempelai yang mirip di undangan, Arif dan Ariva, hehehe cocok banget kayaknya.

Back to topic, gue mengambil kartu peserta try out di dalam tas gue. Kemudian, gue menyimpan nomor HP cewek ungu itu, maksud gue, Ariva. Tak lama kemudian, gue mencoba menelepon cewek tersebut. Dan, ternyata nomor aktif, gue menunggu beberapa saat sebelum akhirnya Ariva mengangkat telepon gue.

“Halo!” sapanya.

“….”

“Halo!” ucapnya lagi.

“….” Gue terdiam.

“Siapa sih? Kalo gak ngomong gue matikan nih!” ancamnya.

“….”

“Ya udah,” Ariva memutuskan telepon gue.

“Tut… tut… tut….” Bunyi telepon terputus terdengar.

“Ah, bego! Kenapa gue gak ngomong apa-apa sih? Ayo ngomong! Ngomong kalo elo pengen deket sama dia, Rif!!! Ayo!!!” seru gue pada diri gue sendiri.

Gue menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Menenangkan diri, ”Gue udah siap.” Ucap gue mantap.

Gue meneka keypad panggilan terakhir, lalu gue kembali menelepon Ariva.

“Halo!” sapa Ariva.

“Halo! Apa ini benar nomor Rio?” ucapku spontan. Pura-pura salah smabung.

“Rio? Rio siapa ya?” tanyanya.

“Hmmm... Rio anak SMA Pramudhita,”

“Oh... sepertinya elo salah sambung deh,”

“Ah, gak mungkin, Rio yang ngasih nomor ini kok,” kataku memaksa.

“Aduh, gak percayaan amat nih,”

“Terus, kalo bukan, ini nomor siapa?”

“Gue, Ariva.”

“Anak mana ya?” ucap gue penasaran.

“Gue anak SMA 14.”

“Oh.... ya udah maaf deh kalo gitu. Sorry, salah sambung,”

“Gak pa-pa kok,”

“O ya, kenalin nama gue, Arif, anak SMA Pramudhita.”

“Oke, salam kenal.”

“Hmmm... ya udah, bye....”

“Oke,” jawab cewek tersebut lalu memaikan teleponnya.

Huah... gue bener-bener deg-degan nelepon tuh cewek! Jujr, selama ini, gue gak pernah tuh sampe nelepon cewek yang bener-bener bikin gue penasaran. Tapi, kali ini gue benar-benar nekad, untung aja gue gak sampai pingsan. Huft....



***



Saat pelajaran Matematika berlangsung, gue sibuk banget mencet keypad HP gue. Perhatian gue terbagi dua pada penjelasan pak Cahyono di depan kelas dan HP yang ada di genggaman gue. Gue lagi ngebales SMS dari Ariva.
Hmm... sejak gue nelepon dia dengan berpura-pura salah sambung, sejak saat itu pula aku mulai melakukan pendekatan dengannya. Sekarang, dia juga udah tahu kalo gue sebenarnya adalah cowok yang ia jumpai saat mengikuti try out. Beberapa kali juga, gue jalan bareng dengan dia. Sepertinya dia ngerespon gue, buktinya sampe sekarang dia mau gue deketin hehehe. Gue harap, Ariva mau jadian sama gue.



***



Jam setengah empat sore, gue sudah tiba di cafe Apple. Di tempat inilah gue akan menyatakan perasaan gue ke Ariva. Gue berharap Ariva bisa menjadi pacar gue, gue benar-benar naksir dia. Memang sih, awalnya gue penasaran Cuma ingin tahu tentang dia aja tapi, semuanya udah berubah, gue naksir berat sama Arvia.

Sesekali gue merapikan baju lengan panjang berkrah yang gue pakai. Gue ingin tampil sempurna di depan Ariva. Gue menoleh ke arah pintu masuk beberapa kali tapi, tak kulihat Ariva muncul di sana. Hingga akhirnya, seorang cewek celingukan masuk ke dalam cafe. Ariva. Gue langsung berdiri dan melambaikan tangan gue. Lalu, setelah melihat ke arah gue, Ariva langsung berjalan ke tempat gue.

“Sorry, gue udah bikin lo nunggu,” kata Ariva meminta maaf.

“Gak pa-pa, gue juga baru beberapa menit kok di sini,” jawab gue.

“By the way, elo beneran nih mau nraktir gue?” Tanya Ariva memulai pembicaraan sambil meletakkan tas tangannya di atas meja. Rupanya, Arvia mengira kalo gue mau nraktir dia, memang gue ngasih alasan nraktir dia di café ini tapi, dia gak tahu kalo di café ini gue akan ngungkapin perasaan gue.

Gue menggaruk kepala, “Sebenernya sih bukan cuma mau nraktir lo,” ucap gue. Grogi.

“Lalu?”

Gue menarik nafas dalam-dalam, “Tunggu sebentar ya!”

“Gue juga mau bilang, kalo gue selama ini naksir sama lo.”

“Hah? Jangan bercanda lo!” kata Ariva gak yakin.

“Gue serius.”

Ariva terdiam.

“Sejak gue ngeliat lo saat ikut try out gue penasaran sama lo, apalagi saat gue tahu nama lo mirip dengan nama gue. Di saat itu juga, gue merasa yakin kalo elo adalah orang yang cocok buat gue. Bukan hanya itu, gue juga tertarik untuk mengenal lo lebih jauh karena elo juga sama-sama suka warna ungu dan Ungu band. Memang kedengarannya konyol, konyol banget. Entahlah, kenapa gue seyakin ini kalo jodoh yang Tuhan pertemukan untuk gue adalah lo,” ungkap gue blak-blakan. Ariva memasang tampang serius mendengarkan apa yang gue katakan,

“Hahaha....” Ariva terawa lebar.

Gue mengernyitkan dahi, “Kenapa tertawa?” tanya gue heran.

“Elo lucu. Lucu banget. Gue gak nyangka kalo alasan lo itu aneh, gak masuk di akal gue dan seratus persen konyol.”

“Lalu, apa jawaban lo?”

“Sorry, gue gak bisa nerima lo. Gue harap elo bakal dapet cewek yang lebih dari gue. Gue nolak lo bukan karena gue gak suka sama lo. Jujur, elo ttuh orangnya lucu, asyik, nyambung dan perhatian tapi, gue tetep gak bisa nerima lo jadi pacar gue.”

“Kenapa?”

“Gue udah punya cowok,” jawab Ariva pendek tapi, menghancurkan hati gue.



***



Sejak kejadian kemarin. Gue gak pernah menghubungi Ariva lagi. Gue benar-benar ingin melupakan dia. Gue bukannya kecewa karena dia menolak cinta gue tapi, gue ingin melupakan dia. Melupakan semua tentang dia. Gue menghapus nomor dia di HP gue. Gue juga meremove akun Facebook dia dari friends gue. Gue ingin melupakan dia. Oh Tuhan... kenapa ini harus terjadi? Mungkin ini adalah pelajaran buat gue, bahwa jodoh memang ada di tangan Tuhan. Seberapa mirip orang yang kita cintai, seberapa cocok orang yang ingin kita miliki, jika Tuhan belum mengijinkan kita dengannya, kita gak akan pernah bisa memilikinya. Gue juga yakin kalo suatu saat nanti gue akan menemukan wanita yang mungkin jauh lebih baik dari Ariva. Wanita yang mampu membuat gue mabuk kepayang. Ariva, gue harap elo bahagia dengan pilihan lo. Bagaimanapun cara gue melupakan elo, gue gak akan bisa, karena elo pernah ada di hati gue, meski hanya membuat gue mabuk kepayang.


this story posted first time here on February, 6th 2011 at 05.53 pm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar