16 Mei 2011

Kau Adalah Belahan Jiwaku

        Tak ada kisah yang sempurna karena manusia hanya dipercaya untuk mengikuti seknarioNya, tidak untuk memutuskan akhir ceritaNya. Ketika cinta datang menyapa sepi dan memeluk erat jiwaku yang lelah ini. Dialah yang berhasil menarikan tarian-tarian cinta di atas khayalanku. Dia pula yang berhasil melukis pelangi di balik mataku, melebihi lukisan terindah pelukis dunia. Aku tahu tak selamanya kita bersama. Seperti malam yang tak pernah bertemu siang dan seperti bulan yang enggan bertemu mentari. Sekeras apapun hati kita, bila sudah tertulis di tanganNYA, selamanya kita tak akan bersama. Meski ku tahu, dia adalah belahan jiwaku.
            Aku tak pernah sedikitpun menyerah untuk memilikinya. Dialah kebahagiaan sejati yang kumiliki. Dia pula yang membuatku bertahan hingga detik ini. Bertahan untuk tak menerima cinta yang lain, selain cinta darinya. Cinta yang kumiliki, seperti bunga sakura, bunga cantik yang hanya tumbuh ditempat yang diberi musim. Bunga yang tak akan pernah tumbuh di tempat lain, meski berada di tempat terindah sekalipun.
            “Farhan, aku menyerah. Apa yang kita lakukan pasti akan sia-sia,” ucapnya dengan nada lirih. Ku lihat air matanya yang bening perlahan menuruni pipinya.
            “Aku gak akan pernah menyerah untuk mempertahankan hubungan kita, Arini,” ucapku pasti dengan menahan luka di bibir. Luka menyayat hati yang kudapat dari seorang yang menentang hubungan kami.
            “Farhan, kamu harus pikirkan dirimu juga! Aku gak mau kamu mati hanya karena berusaha untuk mendapatkan aku. Aku mohon, jangan pernah memaksakan ego-mu lagi! Ayah tidak akan pernah merestui hubungan yang kita jalin selama tujuh tahun ini,” kata Arini. Kata-kata yang semakin menyulutkan amarahku yang terpendam cukup dalam.
            “Aku juga lelah Arini! Aku lelah harus berbuat baik di depan Ayahmu. Aku lelah untuk melawan keegoisan Ayahmu. Tapi, aku tak akan pernah sedikitpun menyerah untuk hubungan kita. Sudah terlalu jauh kita menjalin hubungan ini, Arini.”
            “Aku tahu, Farhan. Mungkin, kita ada hanya untuk mencintai, tidak untuk saling memiliki. Kita tak bisa menentang apa yang telah menjadi kehendakNYA,” ucap Arini. Aku terdiam.
            “Aku mau kita mengakhiri hubungan ini.” kata Arini memecah kesunyian.
            Aku menatap mata indah yang memancarkan kesedihan yang begitu hebat itu, “Arini, kesalahan terbesar jika aku harus meninggalkanmu. Aku tak akan pernah membiarkan mimpi yang kita inginkan selama ini harus berlalu begitu saja. Kamu tahu kan, Arini? Aku ingin membahagiakanmu. Kamu tidak akan melupakan janjiku itu kan?” kataku sambil mengenggam tangannya.
            “Tapi, aku tidak bisa menentang Ayah, Farhan. Ayah pasti tahu apa yang terbaik untukku, meski aku tahu itu belum tentu baik dimataku,”
            “Ayahmu hanya memandangku sebelah mata, ia tak pernah memandang bagaimana aku membahagiakanmu selama ini. Kamu harus yakin Arini, aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik dari sekarang. Karenamu aku berusaha,”
            “Maafkan aku, Farhan. Maaf... mungkin inilah jalan terbaik untuk kita. Aku gak mau melihat kamu tersiksa karena mencintaiku.” kata Arini lirih dengan suara yang bergetar.
            Aku benar-benar pedih mendengar kata-kata yang terucap dari bibir kekasihku. Mengapa dia selemah ini menghadapi badai yang seharusnya bisa kami lalui? Tak kuatkah bila mencoba bertahan meski sebenarnya hati ini rapuh? Mengapa ia tak tahu bahwa cinta yang telah terukir manis ini sulit untuk aku lepaskan? Mengapa hanya karena masa depan yang tak pernah terjamah secara pasti, hubungan yang ingin kubawa menjadi sempurna harus terhalang?
            Sejak ia memutuskan untuk berpisah lima tahun yang lalu, tak pernah aku membuka hati untuk wanita lain. Dialah satu-satunya wanita yang aku inginkan. Aku betah membiarkan diriku digenggam kesepian. Aku telah membulatkan tekadku untuk menunggu Arini singgah kembali dihatiku. Namun tidak dengan Arini. Beberapa bulan setelah memutuskan hubungan denganku, ia memilih untuk pindah ke luar kota. Dia ingin melupakan semua yang pernah kami lalui. Dan benar saja, di tempat barunya, ia bertemu seorang laki-laki yang kemudian menikahinya. Sungguh sulit untuk kupercayai kabar buruk itu. Aku benar-benar tak menyangka bila Arini secepat itu melupakan aku. Tapi, aku yakin cintanya hanya untukku.
            Suatu hari aku bertemu dengan Ibu Arini di sebuah toko baju dekat toko Mas milikku. Ya, aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu. Rupanya inilah jalan terindah yang Allah berikan. Aku yang dulu dipandang sebelah mata karena tak memiliki pekerjaan tetap, kini telah berhasil menghapus dan membuang jauh anggapan itu. Aku menyapa wanita paruh baya itu. Wanita yang biasa aku panggil Bu Tanti itu tersenyum kecil kepadaku. Aku masih ingat saat menjalin hubungan dengan Arini, Bu Tanti-lah yang selalu menjadi penengah bila Ayah Arini selalu memojokkan hubungan kami. Aku mengajak Bu Tanti untuk mengobrol sejenak di sebuah tempat makan untuk melepas rindu setelah lama tak bertemu.
            Tak terasa hampir satu jam aku dan Bu Tanti berbincang-bincang. Selama perbincangan, Bu Tantilah yang banyak berkisah ini-itu. Ia menceritakan tentang Arini sejak kami berpisah. Dan, aku sangat sedih mendengar kisah yang diungkapkan Bu Tanti. Hatiku benar-benar menangis setiap beliau menceritakan bait demi bait tentang Arini. Dadaku serasa sesak dan berat. Aku sangat mencemaskan keadaan Arini. Arini mengalami gangguan jiwa. Sudah hampir dua tahun ini Arini direhabilitasi di sebuah rumah sakit jiwa karena ia tak tahan dengan perilaku kasar suaminya dan mengetahui bahwa ia adalah istri keempat yang dipersunting oleh suaminya. Aku tak pernah membayangkan bahwa kisah yang harus dihadapi Arini begitu berat. Sangat berat. Lebih berat dari perjuangan yang harus kulakukan demi mempertahankan hubunganku dengannya dulu. Aku tahu apa yang Arini rasakan. Ia tak mampu melewati ini sendiri. Arini butuh belahan jiwanya. Ya, belahan jiwa yang tak lain adalah aku. Usai perbincangan di tempat makan, Bu Tanti mengajakku menemui Arini. Awalnya, ia tak mau mempertemukan aku, namun aku mendesaknya karena aku sangat ingin bertemu Arini untuk memecahkan kerinduan yang telah membatu di hati.
            Aku melangkahkan kakiku menuruni anak tangga di sebuah rumah sakit jiwa. Mataku menjelajahi lingkungan sekitar. Kulihat orang-orang yang mengalami gangguan mental bertingkah aneh dan membuatku miris. Terbesit dipikiranku Arini bertingkah seperti mereka. Berbicara sendiri, melompat kegirangan, menciumi boneka barbie dan masih banyak lagi.
            Bu Tanti menghentikan langkahnya tepat di sebuah kamar berukuran kecil. Pintu berjeruji menyambut kedatanganku. Suara seorang wanita melantunkan ayat-ayat suci terdengar mengalun sangat jelas. Suara yang telah bersahabat dan telah lama tak mampir di kedua indra pendengaranku. Arini. Dengan memakai kerudung yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, ia terdengar fasih membaca ayat suci yang ada di hadapannya.            Aku mencoba menyapa. Namun, saat aku menyapanya, Arini terlihat ketakutan, mengerang dan berteriak menyuruhku untuk pergi. Tangannnya memegang kepalanya erat. Matanya yang dulu kulihat begitu indah dan manis, membelalak menakutkan. Aku tak sanggup menyaksikan Arini seperti ini. Aku tak sanggup. Arini benar-benar telah melupakan aku. Ia tak mengenalku lagi. Ia mengumpat kata-kata kotor padaku. Aku tak tega melihat Arini tersiksa seperti ini.
            “Beginilah sikap Arini setiap hari Nak Farhan,” ucap Bu Tanti padaku dengan mata yang berbinar-binar.
            ”Ibu dan Bapak minta maaf karena telah memisahkan kalian. Maafkan ibu yang dulu tak bisa berbuat apa-apa untuk hubungan kalian ya, Nak,” pinta Bu Tanti.
            ”Seharusnya saya yang minta maaf, Bu. Seandainya saya tidak meninggalkan Arini, mungkin semuanya tidak seperti ini,”
            ”Seandainya Bapak tidak memisahkan kalian, Arini juga mungkin tidak akan ada di sini,” ucap Bu Tanti sambil menatapku. Simpati.
            Aku tak tahu mengapa aku tak mampu memahami hati ini. Terlalu sulit bagiku untuk mencari makna yang terselip jauh di relung jiwaku. Karena cinta yang dulu aku tanam kini berubah menjadi layu. Arini, engkau telah terlanjur menempati ruangan hati ini. Kini aku telah datang untuk menjemputmu kembali. Kan kubawa kau melayang melintasi mimpi-mimpi kita dan menari indah di atas khyalanku. Tak kupedulikan pikiran sakit yang menyusupimu. Aku tetap mencintai kekurangan dan kelebihanmu, Arini. Cepat sembuh Arini agar kita bisa kembali merangkai untaian mimpi yang ingin kita wujudkan. Akan kutunggu damai jiwamu sampai kapanpun, karena hanya kamu soulmate-ku.


this story posted first time here, based on true story 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar