24 Maret 2012

Waktu tak akan pernah kembali

Gue heran ketika gue masuk kampus salah satu temen gue rajin banget dah nulis apa yang dosen gue omongin. Mungkin karena emang dasarnya aja gue males, pas kuliah aja gue cuman dengerin dosen gue ngoceh tanpa tahu apa yang dia bicarain. Bukan cuma itu doang, pas ngasih materi gue jarang banget ngerangkum apa yang dosen gue omongin, cuman kalo lagi mendesak baru deh gue nulis.



Gue duduk di samping Ilham, anaknya pinter, hobi baca buku, gak cupu, tapi dia emang gak suka gabung sama gue dan temen-temen buat nongkrong. Setahu gue, dia itu rajin dan aneh. Ya, dia aneh, nulis beberapa impian dia buat masa depan dan nulis apa yang dosen bicarain kalo lagi "Mario Teguh"-an.

"Ham, elu tuh nulis apaan sih? Penting ya nulis kata-kata motivasi sampe berlembar-lembar kayak gini?" celetuk gue ketika Ilham lagi baca buku tebal berwarna biru item.

"Semua itu tergantung individu, Tra! Kalo elu nganggep penting, ya penting, kalo nggak ya nggak," jawab Ilham santai.

"Aduh, kalo gue disuruh beginian, thank you so much, ampun, ampun!" balas gue.

"Hahaha emang dasar lu-nya aja! Oya, bulan depan gue mau ikutan English camp, nih kalo lu mau gabung," ucap Ilham menyodorkan brosur EC yang diadakan sebuah LBB di kota gue.

Gue yang dasarnya males, langsung aja nolak mentah-mentah, "Gue ikutan beginian? Makasih banget deh, Ham! Elu aja yang ikut, gue mah ga tertarik sama beginian walau nilai Bahasa Inggris gue jelek,"

"Elu gimana sih? Justru dengan adanya event ini lu bisa nunjukin buat diri lu, kalo elu juga bisa! Bukankah elu tahu, kalau Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kecuali bila kaum itu mau berubah?"

Mendengar ceramahannya gue langsung alergi telinga, "Ya deh terserah lu," jawab gue kemudian berlalu meninggalkannya.

***

Gue bener-bener bingung banget! Gue langsung merebahkan diri gue di tempat tidur. Kemeja biru muda yang gue pakai langsung tak karuan. Seperti layaknya otak dan pikiran gue yang tak karuan. Sudah hampir 8 bulan ini tak satupun kantor yang gue kirimi surat lamaran pekerjaan memberi kabar apakah gue bisa di terima atau tidak. Gue benar-benar bingung. Kadang gue iri dengan teman-teman gue yang gak butuh waktu lama buat dapat kerja. Sedangkan gue? Mengapa rasanya pekerjaan menjauh dari gue?


Gue melirik tumpukan kertas di meja dekat lemari. Gue berusaha bangkit dari tempat tidur. Tanpa menghiraukan rasa lelah yang berkecamuk di badan gue, gue mencoba mencari daftar perusahaan yang pernah gue datangi. Saat gue mencarinya, secarik kertas seperti meremehkanku. Ia seakan tertawa pada penderitaanku selama ini. Brosur English Camp yang gue dapat dari Ilham tiga tahun lalu. Gue jadi inget sama kejadian yang menimpa gue sekitar empat bulan lalu....

"Selamat sore, maaf apakah benar ini bagian personalia perusahaan Artaniva?" sapaku ketika menelepon bagian personalia.

"Iya, benar. Maaf ini siapa dan ada yang bisa kami bantu?" jawabnya seorang wanita.

"Begini Mbak, dua minggu yang lalu saya interview kemudian saya akan dikabari seminggu yang lalu tapi, sampai sekarang kenapa belum dihubungi?" tanyaku sopan.

"Maaf atas nama siapa ya?"

"Putra Ardiansyah"

"Tunggu sebentar, akan kami check," pinta Mbak personalia itu.

Tak lama, wanita tersebut kembali menghubungiku, "Mohon maaf, nama Anda tidak tercantum di database kami sebagai karyawan baru di sini."

"Kenapa bisa begitu, Mbak?"

"Menurut catatan di CV yang Anda miliki, anda memiliki pengetahuan yang luas, attitude-nya bagus, namun Anda gagal di kemampuan Bahasa. Dimana, saingan Anda saat itu memiliki kemampuan bahasa yang mumpuni. Mungkin itu yang bisa kami sampaikan, ada lagi?"

"Tidak, terima kasih" balasku lemas.

Beberapa rangkaian test memang sudah gue ikuti di perusahaan tersebut. Hampir semuanya bisa gue atasi hingga tersisa lima pelamar. Namun, sangat disayangkan ketika kemampuan bahasa gue jatuh.

Coba dulu gue ikutan English Camp....

"Waktu berlalu lebih cepat dari yang kamu bayangkan. Tanpa kamu sadari, waktu juga tak bisa membawamu kembali pada masa lalu"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar