26 Juli 2013

Flash Fiction : Hakikat Cinta

Membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku merupakan sesuatu yang salah. Aku memiliki cinta yang bisa membenarkannya. Tak peduli seberapa banyak orang tidak menginginkan hal ini terjadi kepadaku. Aku mencintainya tanpa mengharap sesuatu di atas selain cinta yang sama. Begitulah hakikat cinta yang seharusnya orang ketahui.
Om Hans belum juga sadar, pria berumur tiga puluh tujuh tahun itu terbaring lemah. Luka yang membiru di bagian tubuhnya membuat aku semakin sadar bahwa cinta kami semakin kuat.
"Gue ga ngelarang loe buat pacaran sama Oom Hans, Mel. Dia baik tapi, apa loe mau liat Oom Hans menderita?" ucap Kikan memecah sunyi ruang opname. "Oom Hans udah terlalu berbuat banyak buat loe",
"Gue tahu, gue sayang sama dia, Ki. Gue ga akan ninggalin Oom Hans, meski keluarga gue ngejauhin gue." jawabku dengan suara parau seraya menggenggam tangan Oom Hans erat.
"Ki, sebagai sahabat gue selalu dukung apa yang jadi pilihan loe". Kikan mendekat dan meletakkan tangannya di kedua bahuku, "Tapi, cara loe mendapatkan Oom Hans, itu yang salah. Orang tua loe, istri Oom Hans dan keluarganya, mereka yang jadi korban dari hubungan kalian",
"Terus apa yang mesti gue lakuin? Semua sudah terlambat, bahkan untuk memulai yang baru saja-"
"Mel, mencintai orang yang loe sayang tidak hanya dengan memilikinya. Membiarkan ia bahagia dengan orang lain, itu jauh lebih berharga, Mel".
Aku tidak bisa memungkiri, pria yang berada di depanku ia berhasil menarikku dalam kehidupannya. Awalnya, aku tidak ingin semua ini terjalin begitu saja. Aku mencintai Oom Hans hanya karena perhatian yang tidak kudapat dari orangtuaku. Dan Oom Hans memilihku, ia hanya menjadikan aku sebagai pelarian dari pernikahannya yang gagal. Baik aku maupun Oom Hans, kami tidak lagi memandang latar belakang yang menyatukan kami tapi, ada hal yang lebih indah dari itu, cinta.
Lama, tak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua, hanya suara bunyi detak jantung yang menjadi nada pengusir sunyi. Kikan kembali sibuk dengan ponselnya dan aku masih sama, menatap oom Hans dan menggenggam tangannya.
Mendadak, denyut detak jantung Om Hans cepat. Om Hans membuka mata sambil menahan sesak di dadanya. Aku menekan tombol memanggil perawat untuk datang ke ruangan. Tak lama berselang, sebelum perawat itu datang, garis vertikal pada alat pendeteksi detak jantung terlihat sangat jelas. Tubuh Oom Hans tak bergerak.
Aku tak berhasil menahan air mata. Aku mencium tangan Oom Hans. Ia telah pergi meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan berbicara untuk terakhir kalinya.
Kikan merangkulku ketika perawat datang memeriksa dan menyatakan bahwa aku harus menerima jalan yang tak seharusnya kumau.
Oom Hans meninggal. Ia hanya menyisakan cinta di relung hati tanpa memintanya kembali. Membiarkan rasa yang diberinya kepadaku bersemaya di lubuk jiwa. Selamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar