28 Juli 2013

FF : Tonight


Malam ini, akhirnya semua penantianku selama ini akan usai. Aku merapikan blazer hitam yang sedang kukenakan. Ku sebarkan wangi parfum maskulin di beberapa bagian tubuhku. Aku siap. Ku raih sebuat bullet bunga mawar lengkap dengan pita emas dan sebuah kartu kecil yang beruliskan ‘Be mine, forever’. Lalu, satu benda yang tak kalah pentingnya untuk malam ini. Cincin.
Malam ini adalah malam yang sangat berarti untukku. Dalam sebuah hubungan, mungkin sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama. Ketika sepasang pencinta telah menemukan apa yang dicari dari pasangannya, apalagi yang ditunggu bila suatu hubungan yang lebih? Sebuah hubungan yang mempererat ikatan kasih satu sama lain.
Aku melirik Swiss Army di pergelangan tangan kiriku. Pukul depalan malam lebih sepuluh menit. Helen – kekasihku, ia tak tahu bahwa hari ini aku akan datang menemuinya dalam hal yang lebih dari sekedar pertemuan biasa. Aku akan malamarnya.

Kulewati sebuah motor yang terparkir di halaman rumah Helena. Entahlah, mungkin teman Dika – adik Helen, sedang bertandang di sebuah rumah sederhana dengan rimbunan tanaman hijau dan beberapa bunga mungil yang sedang sedikit layu di terangi cahaya lampu taman yang temaram.
“Aku sayang kamu,” suara seorang laki-laki samar kudengar dibalik jendela ruang tamu.
Aku mengernyitkan dahiku, aku memaksimalkan indra pendengaranku, menangkap suara dari bari ruang tamu sesedikit apapun itu, “Aku juga, Ren. Thanks, selama ini udah mau ngertiin gue. Sorry, kalau gue nggak sepenuhnya cinta sama loe. Tapi, loe lebih baik dari Aji.” Suara itu terdengar jelas, suara yang sangat familiar.

Terdapat jeda yang lama dari pembicaraan dua orang di ruang tamu. Aku mengendap-ngendap mendekati pintu rumah yang sejak sepuluh tahun terakhir itu akrab denganku. Ku kecilkan gesekan langkah kakiku pada lantai teras. Kusiapkan hatiku, mengira semuanya baik saja. Tapi, nyatanya mungkin mala mini bukan bagianku untuk bahagia.

Mata perempuan itu membulat. Wajahnya seketika memerah dan membuat sikapnya kaku dan terkejut dengan kedatanganku. Laki-laki yang dihadapannya, ia menoleh ke arahku. Melepaskan ciumannya di kening perempuanku, Helena. Ia sama terkejutnya.

Aku tidak menjawab apa-apa. Kubiarkan mereka tenggelam dalam situasi yang tidak mereka ingini. Bullet  mawar itu jatuh dari genggaman tanganku. Aku semakin sesak, menahan kebencian yang semakin naik ke dadaku. Kutinggalkan mereka malam itu.
“Raihan, please dengerin aku dulu” teriak Helena samar-samar terdengar dari kejauhan ketika aku meninggalkannya.

Sahabat, yang semestinya menjadi pendukungmu, bisa saja berbalik menikammu dari belakang. Tanpa ampun dan tanpa kamu sadari, secepat kamu mengenalnya pertama kali. Reno, dia sahabatku bahkan kita bersahabat jauh sebelum aku dan Helena menjalin sebuah hubungan. Bagiku, Reno bukan hanya sekedar sahabat tapi lebih dari itu.

Aku memejamkan mataku seakan ta percaya dengan apa yang terjadi malam ini. Ingin aku tidak mempercayainya namun, aku melihatnya dengan apa yang kupunya. Kuraih ponsel setelah lama bordering sejak aku meninggalkan rumah Helena.
“Ji, maafin aku. Dengerin aku ngomong dulu, ya?” suara seorang perempuan dengan nada bergetar parau.
“Maaf, aku sama kamu bukan siapa-siapa lagi malam ini. Jangan ganggu aku lagi, ya?” balasku kemudian dengan terpaksa kutekan tombol end call ponsel.
Cincin itu, masih ada digenggamanku. Cincin yang awalnya akan kuberikan pada perempuan yang kukira sudah pantas menjadi miliku. Tapi, mungkin bukan saatnya cincin ini melekat di jari perempuan yang selama sepeuluh tahun kukenal. Mungkin saja, ada perempuan lain yang sedang menunggu memasangkannya. Mungkin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar