27 Juli 2013

Flash Fiction : Dambaan Hati

Namanya Nirmala, ia berjalan menyusuri koridor antar ruang kelas. Senyumnya tak hentinya ia lepaskan kepada orang-orang yang ditemuinya, seiring kakinya melangkah. Di sudut koridor, aku duduk memperhatikan dirinya dari kejauhan. Sudah lama aku menyukainya dan hampir semua laki-laki di kampus juga pasti merasakan hal yang sama. Ia perempuan sederhana, dengan sikapnya yang manis dan wawasan luas, tak pelak membuat hampir semua laki-laki ingin menjadi pasangannya. Bukan hanya itu, ia hobi memotret - sama halnya denganku, itu pula yang menjadikan aku dengan Nirmala dekat, dibandingkan laki-laki lainnya. Tapi, perasaan manusia tak pernah ada yang tahu. Begitu pula Nirmala, aku yang setahun terakhir ini menemaninya diam-diam menyimpan rasa yang terhadap Nirmala dan ia tidak tahu itu.

Malam harinya, seperti biasa, sebagai sosial media addict, aku mulai berselancar di dunia maya. Suara denting pemberitahuan chat dari YM, mengalihkan aku yang sedang memilih foto hasil bidikanku hari ini.
"Hi, lg on ya?" sapa pemilik YM berakun, LittleAngel - yang tak lain adalah Nirmala.
Aku hanya membalasnya dengan emot smile.
"Gue heran, elu itu siapa ya? Kok gue hampir tiap malam curhat sama lu. Boleh tau nama asli lu?" balasnya. Ya, hampir tiap malam ia chat aku, menceritakan segala masalahnya, termasuk soal laki-laki yang ia sukai. Jujur, yang ini memang membuat lebam hati.
"Gimana? Tadi elu udah ketemuan sama cowo yang lu suka? Buat...." aku mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Seharian ini gue sibuk ngurusin skripsi gue."
"Kalo dia emang dambaan hati lu, buruan deh elu deketin sebelum dia sama yg lain. Emang dia siapa sih? Sekampus?"
"Masa iya, cewe dulu yang deketin. Ogah. Nama Dandi, iya sekampus. Gue deket sama dia juga baru setahun terakhir gara-gara dia suka fotografi kayak gue."
Degupan kencang di dadaku, perlahan makin terasa cepat. Aku meremas kepalaku pelan. Mengulum senyum yang kian tak terbendung. Apa aku sedang mimpi? Nirmala, perempuan itu, ia juga diam-diam menyukaiku dan mengharap sesuatu yang lebih dariku.
Aku sibuk dengan pikiranku yang terhubung dengan suasana hati. Aku bahagia, tak tahu semua akan seperti apa selanjutnya.
Terdengar beberapa kali suara chat dari Nirmala. Rupanya, ia kesal karena aku tak segera menjawab chatnya.
"Sori, tadi ada sedikit trouble. Hmm kalo Dandi itu gue, apa yg bakal lu lakuin" tulisku. Gila kenapa aku bisa-bisanya menulis seperti ini?
"Gue akan mengatakan apa yang mengganjal perasaan gue dan gue akan tanya apa dia juga merasakan perasaan sama serti apa yang gue rasakan."

Dan, aku memilih mengakhiri pembicaraan dengannya malam ini. Aku takut terjebak dan ia hanya mempermainkanku. Namun, nyatanya pikiranku mulai sibuk menyiapkan bagaimana cara mengungkapkan perasaanku dan memulai dengan Nirmala dari awal. Ya, Nirmala telah membuka hati untukku dan aku menyambutnya. Kini hanya masalah waktu, kapan aku dan Nirmala saling menautkan hati satu sama lain. Aku rasa, besok adalah waktu yang tepat. Bukankah tak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk memasuki pintu hati yang telah terbuka?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar