27 Juli 2013

Flash Fiction : Cinta Tiga Sisi

Aku menatap sebuah foto yang diambil ketika berlibur di sebuah taman bermain di Melbourne. Andrew di sampingku, ia tersenyum lebar sambil merangkul Hana. Sedangkan Hana, ia menyipitkan matanya sambil menempelkan kepalanya di bahu Raka. Sebuah memori indah yang masih tersimpan di dalam foto tersebut. Kami bertiga bersahabat sejak pertama duduk di bangku kuliah. Andrew yang terobsesi menjadi musisi, Hana yang menyukai dunia modelling dan saya yang sibuk dengan bisnis cafe keluarga, kami bertiga saling mengerti satu sama lain. Namun, semua berubah ketika Hana dan Andrew menjalin hubungan yang tidak aku ketahui sebelumnya. Hatiku tergores bahkan, goresan itu menganga hingga kini.

Andrew, ia diam tanpa mengeluarkan kata apapun. Membiarkan keheningan masuk di celah pertemuan aku dengan Andrew. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kilauan lampu kapal feri yang melintas di sungai Paramatta, tepat di hadapan kami, menambah ngilu rasa sakit yang masih aku rasakan.
"Hana, she's my decision." ucap Andrew memecah kesunyian. "I know it will be a hurt decision for you but, please let me begin my life again with her."
Aku menatap wajah Andrew, matanya tajam, ia bersungguh-sungguh mengatakan itu padaku, "Long time, before you choose Hana to be yours. I choose you to be mine, and you to." jawabku sambil menahan dada yang makin sesak, "Now, you choose the love after me. Did you know? I still hope that we can getting back anymore"
"Raka, hentikan semua ini! Jangan berusaha meneruskan apa yang bukan menjadi jalanmu!"
"Jalanku? Ini jalan kita, Ndrew! Bahkan, kamu yang memulai semua dan hanya menyebut ini jalanku saja? Karena Hana, iya?" cecarku.
"Maafin aku, aku hanya mencari jalan yang semestinya. Bukan dengan kamu tapi, Hana."
"Apa yang kamu mau minta dari dia? Aku bisa memberimu apa yang kamu mau,"
"Aku ingin berumah tangga dengannya. Dan itu tidak mungkin bisa kamu berikan kepadaku",
Hatiku sesak. Aku terdiam mencerna apa yang Andrew katakan. Rumah tangga? Mungkin memang aku tidak bisa membangun rumah tangga dengannya. Tak ada lagi kata yang bisa aku keluarkan. Bibirku kelu.
"Besok, aku akan melangsungkan pertunangan dengan Hana. Aku mengundang kamu sebagai sahabat",
"Aku ga akan datang",
"Kenapa?"
"Kamu gila! Dengan hadirnya aku, kamu hanya menambah hati ini sakit!"
"Raka, please datang untuk terakhir kali ini saja. Demi persahabatan kita-", pinta Andrew sambil menggenggam tanganku. "Dan untuk perpisahan kita," tambahnya.
Aku menunduk menatap mata Andrew yang masih saja bersinar dan mempesona seperti kali pertama kulihat. Aku kembali terdiam.
Aku tidak tahu mengapa harus ada aku di antara Andrew dan Hana. Atau, ada Hana di antara aku dan Andrew. Cinta tiga sisi, hal yang sama sekali tidak kuingini. Andrew telah memilih Hana sebagai sisinya untuk berpijak. Sedangkan aku, berada pada sisi yang berat dan terluka.
Malam ini, terakhir kalinya aku dan Andrew menikmati jembatan Sydney Harbour dari kejauhan, tempat pertama kali kami menjalin hubungan. Dan, malam ini rasa hangat itu menjalar keseluruh tubuh. Lembab. Rasa yang sama seperti saat kali pertama aku mendapatkannya. Ciuman Andrew, menandakan akhir dari kisah kami yang tak sempurna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar