9 Agustus 2013

Belajar dari Abang Becak


Banyak yang bilang, rejeki sudah ada yang ngatur. Aku rasa ini ada benarnya juga.
Bagiku, setiap manusia sudah memiliki takdir seperti, risky, jodoh bahkan maut yang telah di atur (mungkin) jauh sebelum manusia terlahir ke dunia.

Sabtu pagi (01/01/'11) sekitar pukul 05:24, aku mengantarkan ibu ke pasar. Lah, apa hubungannya? Hubungannya ada kok. Tulisan ini aku tulis saat menunggu ibuku yang sedang berbelanja, yah itung-itung ngisi waktu luang. Tahu kan gimana lamanya kalo ibu-ibu belanja?
Tulisan ini, aku rangkai atas pemikiranku mengenai pak becak yang lagi mangkal. Hah, terdengar aneh memang. Sepintas, memang tak ada yang spesial dari mereka tapi, aku menemukan "something different" yang mungkin baru aku temukan dari mereka. Aku sadar betul, dalam mencari uang diperlukan persaingan yang cukup ketat. Apalagi, sebagai penarik becak yang tak bisa diprediksi berapa uang yang akan didapat tiap harinya. Tapi, melihat kebersamaan di antara mereka aku semakin tahu kalau tak selamanya uang membuat mereka bersaing. Bagiku, menjadi tukang becak bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain, membutuhkan tenaga yang kuat, dibutuhkan pula mental yang kuat. Ya, mental apabila sedikit risky yang mereka dapat, lebih-lebih mental iri saat melihat pak becak yang lain memperoleh risky yang lebih. Tapi, aku salut pada mereka yang menerima hidup ini apa adanya tanpa merasa bersaing dan bersama dalam mencari risky. Mereka masih tersenyum lebar meski kantong mereka sedikit terisi bahkan mungkin tidak terisi sama sekali. Satu kalimat yang tak bisa kubaca dari mereka, rejeki sudah ada yang mengatur.

posted here on January, 21st - 2011 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar