28 Juli 2013

Writing Storygraphy, Menulis Sejak SD

Kali ini saya akan menceritakan tentang bagaimana saya mulai menulis hingga seperti saat ini. Semua berawal dari sejak saya belum duduk di bangku pre-school atau dulu yang lebih ngetrend dengan sebuatan Taman Kanak-Kanak. Saat itu saya yang masih belum bisa membaca, suka sekali kalau ibu saya yang notabene membawakan saya buku bacaan, terutama buku bacaan bergambar. Meski saya tidak bisa membaca, saya senang melihat ilustrasi gambar yang ada di buku - buku tersebut. Bahkan, dulu saya sering sekali ngembek, berantakin kamar kalau ibu saya tidak membawakan buku.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya suka sekali membaca buku cerita bergambar. Saya masih ingat sekali, dulu waktu itu saya suka banget baca cerita tentang sekelompok tikus yang tinggal di hutan dan menjadi incaran kucing. Tapi, saya lupa alurnya seperti apa. Saya cuma ingat bagian gambarnya saja, sampai sekarang.

Kurang lebih, kalau nggak salah saat saya duduk di bangku kelas 3-4 SD, saya mulai suka menulis. Awalnya, gara-gara teman saya waktu itu - namanya Dini, dia nulis suatu cerita dan ikutan lomba ngarang. Nah, nggak tahu mungkin saya merasa dia saingan saya waktu itu, saya juga mulai menulis. Dan tahu apa yang saya tulis? Kisah tentang tikus hutan dan kucing yang saya baca. Alhasil, Dini merasa kalau cerita yang saya tulis sangat bagus dan ia tertarik. Kalau saja saat itu dulu saya plagiat, mati dah saya. Namun, hal itu nggak membuat saya nyerah, saya mulai punya ide untuk menulis tentang seoarang anak bernama Bimo yang berlibur di rumah neneknya, bersama beberapa temannya. Namun, saat liburan mereka dihadapi masalah karena salah satu teman mereka diculik. Dan, saya hanya ingat ide saya untuk menulis cerita tersebut hanya sebatas itu. Mungkin lain kali saya usahakan deh coba nulis cerita masa kecil saya itu.

Berlanjut tuh di bangku SMP. Masa-masa labil, paling pengen dilihat yang paling keren dan gak gaul kalau nggak punya handphone Nokia 6600. Itulah masa SMP saya sekitar tahun 2006an. Di bangku ini saya juga udah mulai suka menulis (lagi). Gara-gara, kakak kedua saya, ia menulis cerita tentang hubungan asamaranya di bangku SMA. Lihat dia nulis berasa keren banget deh! Apalagi ditambah teman-teman saya kalau di sekolah udang nggak ada pelajaran - setelah ujian semester, udah pada heboh tuh yang mau baca teenlit sampai pinjem ke rental buku, yang saya ingat nama rental yang terkenal itu Valeria.

Di bangku SMP saya mulai menulis tentang kisah tiga laki-laki yang pengen banget punya pacar namanya Dika, Ryan dan Bagas. Saat itu saya memberinya judul, "The Joker Boyz". Sebenarnya, yang memotivasi saya saat itu adalah ketika saya pinjam teenlit teman, selalu deh pertama kali yang dilihat mesti biodata pengarangnya. Nah, penulisnya cowok masih SMA pula. Sempat kepikiran juga tuh dibenak saya, kalau saya nulis mungkin saya penulis cowok termuda di Indonesia. Hal itu yang mengubah pandangan saya bahwa penulis itu nggak melulu cewek. Balik lagi ke cerita The Joker Boyz, saya waktu itu nulisnya cuma dikit-dikit bahkan sampai sekarang belum selesai. Doain aja biar ada niatan buat nyelesain. Nah, saya kurang tahu waktu itu kelasnya cuma berapa bab, udah deh naskah tak terselesaikan itu langsung saya print out. Dan, saya mulai pamer karya. Hasilnya? Tuh naskah dipinjam sana-sini. Saya, mendadak terkenal karena bisa bikin (naskah) novel (yang tak terselesaikan).

Berlanjut di SMA saya menemukan banyak banget perubahan. Saya mulai serius nulis. Saya punya novel, judulnya Delovacious, saya menulisnya sejak akhir SMP hingga SMA kelas X atau I. Nah, saya tulis novel itu sampai rampung, diedit berkali-kali, diubah alurnya. Sampai akhirnya saya berhasil menyelesaikannya. Seperti saat saya di bangku SMP, saya memamerkannya pada teman seangakatan. Udah mulai nyebar itu novel, saya juga nyuruh mereka ngasih testimoni di lembaran kosong dibelakangnya. Overall, tanggapannya sih positif dan mereka sangat setuju dengan novel yang saya tulis.

Di tahun kedua di bangku SMA, iseng saya mengirimkannya ke penerbit mayor. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan hampir enam bulan, ada surat balasan dari penerbit tersebut. Duh, saat itu saya senangnya mint ampun, padahal cuma dapat surat dari penerbit yang saya kirimi novel! Nah setelah dibuka, novel saya tidak bisa diterbitkan. Ga munafik, sedih pastilah. Saat itu sempat putus asa, agak dongkol juga dan bingung, emangnya bagian mana sih yang bikin gagal terbit? Kalau ditelaah, banyaaaaaaaaak!!!Saya akan ceritakan di lain kesempatan.

Di sisi lain, sudahlah saya putus asa. Saya bagiin itu novel dijejaring sosial ke komunitas yang menjadi inspirasi dari novel tersebut. Dan tahu yang terjadi? Banyak friend request di akun Facebook, pujian dan lain sebagainya tentang novel yang saya tulis. Siapa sih yang nggak senang kalau dipuji? Tapi, saya hanya menggap itu sebagai bentuk dukungan saja karena bakat saya, menulis.

Ada cerita yang nggak bisa aku lupakan dari kisah menyebarnya novel saya ini. Sore-sore saya sedang menulis naskah novel, entahlah saya lupa novel yang mana. Ada pesan masuk di ponsel saya, dari seseorang yang nggak saya kenal.
Dia bilang, "Ini Arif ya? Penulis  novel Delovacious?"
"Saya menemukan novel ini di dekat LBB Galileo, ada nomor kamu, ya udah saya baca dan hubungi kamu," balasnya setelah saya tanyakan ada apa.
Singkat cerita, dia blang kalau dia sudah baca ceritanya dan membuatnya nangis bukan hanya itu di dalam print out novel itu ada juga beberapa cerpen yang diprint out. Sebenarnya, saya nggak GR dia bilang seperti itu tapi, yang bikin saya bilang "Gila, sampe segitunya!" adalah si pemilik print out saya itu. Dia, yang saya sendiri tidak tahu siapa, bela-belain print out novel saya dan beberapa cerpen yang saya tulis.

Dari kisah ini saya belajar, bahwa tak peduli seberapa tulisan buruk yang kita punya tapi, dengan adanya pendukung, pembaca atau mungkin bisa saja disebut fans. Seorang penulis bis amenjadi lebih baik dan lebih semangat untuk berkarya.

Saya terkadang malu sebagai diri saya sendiri hingga saat ini, pingin dah jadi penulis yang terkenal, jadi pembicara di sana - sini, keliling Indonesia, buku-buku bestseller dan lebih awesome-nya lagi kalau sampai difilmkan. Tapi, apa? Saya suka mengulur waktu untuk menulis, malas dan bosan.

Alhasil, duduk di bangku kuliah saya cuma sedikit untuk menulis. Menulis hanya bila ada waktu, bukan menjadi kebiasaan. Hanya menulis kata-kata sederhana dan cerpen. Beberapa, saya juga menerbitkan kumpulan cerpen Bersamamu di selfpublishing.

Dan sekarang, Juli 2013 saya mau berubah. Saya mau istqamah buat nulis, kalau dulu, writing is my hobby tapi, saya akan ubah mind side itu menjadi, writing is my habbit. Insyaallah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar