12 September 2013

Cinta Diam Diam

Here we are share the stories
about life, dreams and hopes
me and you have a purpose
it made ​​me picked you to moorings my heart
good men for good women, isn't it?
 

Your manners makes ​​me like living lingering here
You are not so beautiful, not popular and even maybe not many men who likes you
but I'm lucky to see my future in your eyes
There, there's a happiness that can't be seen in other women


We've here,
but not to have each other
....


(We Have Here - Arif Darmawan)


     "Apa kamu akan merindukan aku jika suatu saat nanti kita berpisah?"
     "Hmmm, mungkin."
     Sudah hampir satu jam kami berada di kedai kopi ini. Americano yang tersaji di hadapanku kini sudah terseduh sebagian. Aku masih tidak tahu kapan lagi aku bisa menikmati waktu berdua seperti ini. Aku sungguh ingin memperlambat waktu yang kian lama semakin memaksaku untuk melangkah pergi. Aku masih belum bisa menerima bahwa hari ini adalah hari terakhir. Memang berat rasanya meninggalkan apa sudah kita punya selama ini. Terlebih, kita harus memulai sesuatu yang baru tanpa kebiasaan rutin yang pernah kita lakukan sebelumnya. 
     Aku terlalu melankolis menghadapi kenyataan hidup yang tengah kualami. Bagaimana tidak, aku yang terbiasa dengan orang selama ini telah kupercaya harus rela meninggalkannya. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa menemuinya lagi.
      Ingin aku memutar waktu dan membiarkan aku dengannya berlama-lama di dalam kebersamaan yang sudah mengikat erat. Besok aku akan pergi dan aku takut untuk kembali. Takut dia sudah termiliki.

***


     Aku mengemas barang-barang yang kubawa ke dalam koper berwarna merah marun. Sudah hampir setengah jam lebih aku berkutat dengan barang bawaanku. Hanya pakaian dan beberapa gadget dan benda penting lainnya yang seharusnya bisa kukemas dengan segera. Namun, nyatanya sejauh ini aku merasakan rasa yang sangat berat untuk benar-benar pergi dari sini.
      Aku memasukkan beberapa gadget yang kupunya ke dalam tas yang lebih kecil. Tanganku tertahan pada sebuah mata kalung berbentuk bangunan terkenal Prancis. Ada terselip cerita panjang yang hingga kini aku masih ingin merubah akhir ceritanya meskipun jelas aku sudah tahu bahwa akhir cerita yang kuingini tak akan pernah terjadi. 
     "Lo tau nggak? Kadang gue itu suka mimpiin lihat pemandangan kota Paris dari atas menara Eiffel bareng orang yang nantinya jadi pasangan gue. Pasti romantis banget deh, Gan!" ucap Maudy sambil mengunyah jagung bakar yang kami beli.
     Aku memandang night view kota Bandung yang terlihat berkilau dari tempat kami berada sekarang - Dago, "Kalo mimpi itu jangan ketinggian ntar elo jatuhnya juga bakalan sakit banget."
      "Kok elo ngomong gitu sih? Lo nggak suka ya gue punya mimpi kayak gitu?" ucap Maudy dongkol sambil menyenggol bahu kiriku.
      "Elo percaya jodoh nggak? Kadang gue suka penasaran deh, entar jodoh gue itu seperti apa. Suka tertawa sendiri kalo mikirinnya," balasku tanpa mempedulikan ucapan Maudy.
     "Jodoh itu udah kayak pagi sama malam, hitam sama putih, semua pasti punya jodoh. Elo tau kan kalo apa yang ada di dunia ini sebenarnya berpasang-pasangan, termasuk elo sama gue,"
      Aku menoleh ke arah Maudy yang sedang merapikan poni yang mengganggu matanya, "Elo sama gue? Maksud lo, kita berjodoh, gitu?"
      Maudy tertawa lebar, tangannya yang halus beberapa kali memukul lenganku, "Ya nggak lah, maksud gue, kita itu jodoh tapi cuma sebagai teman dekat. Iya kan?"
      "Anyway, kenapa lo nanya tentang jodoh? Elo udah punya jodoh siapa?" lanjut Maudy sambil memaksaku untuk bercerita.
     "Apaan sih? Nggak, gue cuma iseng aja nanya soal itu. Udah ah ayo pulang, udah malem juga ntar nyokap lo ngomel-ngomel sama gue," jawabku seraya beranjak dari sebuah kursi panjang yag terbuat dari kayu. Aku menghindar, aku tidak ingin ia bertanya lebih lanjut, aku takut ia tahu bahwa aku mulai menyukainya.
      Kenangan itu kembali menyeruak di dalam memoriku. Membuat aku mereka ulang kenangan yang pernah aku alami dengan Maudy. Malam ini, aku merasa menjadi manusia yang bodoh. Membiarkan takdir menuliskan apa yang seharusnya tertuliskan. Bukankah takdir juga bisa berubah jika ada usaha yang bisa kuperbuat? Nyatanya aku tidak mampu berbuat apa-apa hingga di malam terakhir ini.

***

     Sebentar lagi pesawat dengan tujuan Sydney akan terbang. Papa sedang sibuk menerima telepon dari rekan kantornya. Sedangkan Mama, ia juga terlalu sibuk mengurusi kedua adikku yang sedang rewel. Suasana bandara Soeta begitu ramai. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan aku, hanya duduk sendiri kembali memandangi kalung Eifel yang berada di genggamanku. Sedih rasanya harus pergi meninggalkan orang yang kita sayang dan membiasakan diri untuk terbiasa tidak melibatkan mereka dalam segala situasi yang kita hadapi.
     "Harusnya lo ada di sini...." ucapku pelan sambil menggenggam erat kalung dalam tanganku. Kalung yang kembali membawaku pada kisah lalu yang mana bisa aku lupakan.

     Jam sepuluh pagi, saat itu aku sedang menyiapkan kotak kecil. Kubungkus dengan kertas berwarna biru muda dengan pita berwarna merah tua yang menimbulkan kesan manis pada kado berukuran mungil itu. Aku duduk di kantin sekolah menunggu Maudy datang menemuiku. Saat itu, aku berencana memberinya kalung bermata menara Eifel hal yang paling ia suka dari kota Paris. Dan saat itu pula, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan yang selama ini aku pendam sendiri tanpa ia tahu.
     "Sorry, gue mesti gerjain PR Fisika gue duluan," suara lembut Maudy mendadak terdengar dari belakangku.
     Aku tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda 'iya gue maafin' padanya, "Tadi kenapa lo nggak bareng gue berangkatnya?"
     "Oh iya gue lupa, kemarin si Ardy udah janji buat jemput gue. Ya udah gue iya-in aja, sorry ngga ngabarin lo semalam,"
      Ardy. Sebenarnya aku tidak ingin membahas tentang dia. Aku tidak cukup tahu tentang dia. Aku hanya tahu bahwa ia adalah mantan Maudy dan sedang melakukan pendekatan kembali pada Maudy. Dan Maudy, ia sangat senang saat Ardy datang kembali padanya bahkan sampai menyita waktu yang seharusnya kami habiskan berdua. Hanya itu yang ku tahu.
      "By the way, ada apa lo ngajakin gue ke sini?" 
     "Hmm gue cuma mau ngucapin selamat ulang tahun buat lo. Gue seneng sekarang lo deket lagi sama Ardy, semoga Ardy jadi kado indah buat ulang tahun lo," 
     "Thanks, Gani! Elo emang sahabat gue yang paling baik!"
     Hanya itu yang kudengar dari  bibir mungil Maudy saat itu. Ardy. Dia menahan kado yang telah kupersiapkan untuk Maudy. Kado yang seharusnya Maudy miliki. Tapi, aku tidak tahu sampai kapan kado itu akan bertahan dan tak akan pernah termiliki oleh Maudy.
     Ah, Maudy! Seandainya kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini.

     Aku melenguh. Kutatap layar ponsel tak ada pesan baru dan tak ada telepon masuk. Aku tidak tahu kenapa sampai saat ini aku masih berharap Maudy datang menemuiku. Seperti di film yang pernah kita tonton, saat tokoh wanita menahan sang pria agar tidak pergi meninggalkannya. Seandainya sebuah film itu bisa menjadi nyata. 
     Pengumuman keberangkatan pesawat menuju Sydney diumumkan. Aku bergegas memasang tas ransel pada kedua bahuku. Papa dan Mama datang menghampiriku sambil menasihatiku untuk baik-baik di Sydney dan mengabarkan mereka saat aku sudah tiba di sana. Setelahnya, aku peluk mereka berdua dan dengan berat meninggalkan mereka. 
     Aku melangkahkan kakiku meninggalkan keluargaku yang mengantarku. Sesekali aku membalikkan badan, mereka melambaikan tangannya padaku seolah aku sedang memandang mereka. Namun, sebenarnya kau masih terlalu naif mengharapkan kedatangan Maudy di bandara. Nyatanya, ia memang tidak datang mengantar kepergianku. Miris.
     Kalung di dalam genggamanku semakin terasa ketika aku mendekati petugas yang akan memerikasa passport yang kupunya. Langkahku tertahan. Aku menatap kalung menara Eiffel tersebut. Untuk apa aku menunggu hampir empat tahun jika ternyata apa yang kurasa tidak pernah bersambut. Buktinya, Maudy tidak benar-benar menyayangiku, bahkan sebagai sehabatnya dengan mengesampingkan perasaanku padanya. Ia tidak mengantar kepergianku, itulah yang membuatku begitu kecewa.
      Maudy selamat tinggal. Gue harap, gue bisa lupain elo secepatnya.
      "Ssrrkk!" Suara kalung dalam genggamanku jatuh pada tong sampah yang berada di sampingku.

***

Sydney, 12 September ....


     Aku menyeduh teh hangat di meja belajarku yang berantakan dengan tugas kuliah yang harus kukerjakan malam ini. Layar komputer yang menyala menerangi sebagian wajahku di tengah pendarnya lampu kamar di flat tempatku tinggal. Aku mencari tombol e-mail untuk mengunduh tugas yang dikirim teman sekelasku. Namun, mataku menangkap sebuah e-mail dari nama yang mulai kulupakan selama hampir satu bulan ini. Maudy.

From : Maudinda Lestari
To     : Ghani Prasetyawan
Subject : Miss You

     Ghani, apa kabar lo di sana? Gue harap elo baik-baik aja di sana! Gue nggak tau elo bakal buka e-mail ini atau nggak, setelah gue tahu kalo elo pasti kecewa sama gue yang nggak nemenin waktu lo mau berangkat. Ghani elo itu sahabat gue yang paling baik, gue nggak punya sahabat yang baik, sebaik lo.
Jujur, saat gue tahu lo dapat beasiswa buat kuliah di Sydney, gue seneng banget tapi, itu yang gue tampakkan di hadapan lo. Nyatanya, sejak gue tahu kabar itu gue mendadak kesel sama lo, makanya gue terkesan ngehindar dari lo.
     Ghani, gue ngga tau apa yang gue rasakan. Gue juga ngga tau apa lo ngerasain apa yang gue rasakan. Oke, mungkin lo udah menangkap apa yang bakal gue omongin. Ya, bener! Gue sebenarnya suka sama lo sejak gue putus dari Ardy. Kenalnya gue sama lo, membuat gue lambat laun melupakan Ardy dan mulai tertarik sama lo. 
     Gue nggak tahu apa yang bakal lo lakuin saat ini. Mungkin, gue udah nyakitin lo dengan balikan sama Ardy yang banyak menyita waktu gue sama lo. Tapi, kalo boleh jujur saat itu meskipun lo tahu gue suka sama Ardy tapi, gue ngerasa masih nyaman sama lo. 
     Gue sebenarnya kesel sama diri gue. Gue diam-diam suka sama lo tapi nggak pernah berharap lebih karena gue tahu mungkin lo nggak akan mau sama gue. Waktu itu saat lo mau berangkat, gue ngga pingin lo tahu kalau gue suka sama lo karena gue takut gue menangis di depan lo dan menyatakan semuanya.
     Sorry, kalau gue bikin e-mail panjang begini cuma curhat. Setidaknya sekarang gue lega udah bisa mengatakan apa yang sebenarnya gue rasain sama lo. Elo jaga diri baik-baik ya di sana.


Maudy Lestari


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar