1 Januari 2014

Mendapatkan Beasiswa PPA

Alhamdulillah setelah setahun menunggu akhirnya kesempaan itu datang kepadaku. Di semester III, aku mencoba untuk mendaftarkan diri mengajukan beasiswa PPA. Saya merasa cukup optimis ketika mendaftar salah satu jenis beasiswa yang ditawarkan di kampus ini. Awalnya memang agak sedikit psimis karena mengingat beasiswa PPA adalah beasisiwa yang ditujukan kepada sebagian mahasiswa yang memiliki nilai akdemik yang sangat bagus dan “qualified”.
Setahun setelah kegagalan itu, aku menoba untuk bangkit. Yah, dengan IP 3,17 di semester pertama dan mendaftar beasiswa PPA,kayaknya ibarat ikutan audisi, baru sampe di pintu audisi udah ditolak. Tapi, aku tidak terus-terusan merutuk diri dengan kegagalan tersebut.
Di semester kedua, aku mencoba meningkatkan nilai akademiku. Dimulai dari duduk di bangku paling depan, sering aktif memberikan pendapat sanggahan atau apalah ketika diskusi di kelas dan mencoba mengerjakan tugas jauh-jauh hari dari deadline. Hasilnya? Jauh di luar dugaan, nilai semester yang kudapat naik drastis banget dari semester pertama. Berita baiknya, nilai saya tertinggi di kelas. Bisa dibayangkan bagaimana kagetnya seorang mahasiswa yang biasa aja dan tidak diperhitungkan bisa membuktikan bahwa ia bisa menjadi yang terbaik. Alhamdulillah, hal ini yang menjadi salah satu faktor acceptednya nilaiku buat dapetin beasiswa PPA.
Selain itu, selama setahun setelah kegagalan itu pula. Aku mulai menyiapkan diri untuk agar peluangku untuk mendapat beasiswa PPA semakin besar. Seperti mengikuti seminar dan berbaga jenis lomba. Salah satu lomba yang aku ikutin adalah pemilihan duta wisata di daerah tempatku tinggal. Hasilnya? Aku hanya menjadi finalis, tidak sampai masuk sepuluh besar. Selain karena kesiapan yang kurang matang tapi, aku melakukan kesalahan terbesar seperti menggunakan Bahasa Indonesia dan no make up ketika acara “fashion show”. Bagiku, nggak masalah sih namanya juga belajar, mumpung masih muda cari pengalaman sebanyak mungkin biar pas tua punya banyak cerita.
Well, setelah mendapat pengumuman kalau aku lolos seleksi beasiswa bukannya semua sudah berakhir. Tapi, itu semua adalah awal dari proses mendapatkan beasiswa tersebut. Dimulai dari kelimpungan nyari anggota untuk bikin KTI, nyusun KTI seorang diri padahal udah ada partner bahkan sampe kudu bikin KTI lagi karena salah mendapatkan partner. Tapi, semua bisa dilalui dengan mudah. Alhamdulillah, Allah membukakan jalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar