23 Mei 2010

Puisi

Malam semakin larut. Udara dingin begitu menusuk dan memeluk erat tubuh ini. Bintang-bintang dan rembulan kian benderang menerangi malam yang begitu cerah. Malam yang indah. Malam yang mengingatkanku pada sesosok wanita yang pernah menjadi kekuatan dalam hidupku.

Aku berdiri di jendela apartmentku. Ku lihat pemandangan malam yang begitu indah. Terlihat lampu-lampu kota Bandung berkilauan dari apartmentku. Sengaja aku pilih apartment di daerah Dago agar aku bisa melihat pemandangan indah seperti ini. Di tengah pulasnya Diana - istriku - aku memandangi pemandangan itu sambil menulis puisi dengan rangkaian kata yang indah mengalun senada dengan langkah jemariku. Heran deh, aku tak tahu mengapa aku jadi hobi menulis puisi, padahal dulunya aku hanya iseng. Semua ini karena Zahra, sahabat terbaikku. Dia yang membuatku seperti saat ini, menjadi penulis puisi yang sukses. Zahra apa kabarmu malam ini? Apa kau juga mengingatku? Zahra, aku tak tahu mengapa malam ini aku merindukanmu. Aku ingin kita bersama seperti dulu. Sejenak aku memandangi langit yang bertaburan dengan bintang. Aku menerawang jauh ke langit dan membawa jiwaku pada masa-masa SMA-ku dengan Zahra....

Surabaya, Juli 2005...
Siang itu aku memasuki ruang kelasku. Kelas yang berisikan orang-orang berpenampilan mewah. Kelas yang membuatku minder karena aku beda dengan mereka. Mereka orang kalangan atas sedangkan aku? Aku hanya orang biasa yang apa adanya. Sudah tiga bulan lebih aku di kelas itu, selama itu juga aku tak mendapatkan temen dekat satupun. Hingga akhirnya aku mengenal Zahra, cewek smart, supel dan cantik dengan jilbab yang membuatnya mempesona. Suatu hari Zahra menyapaku yang sedang menulis puisi di buku bersampul ungu. Saat itu hanya dia cewek pertama yang menyapaku lebih dekat. Dia juga menanyakan mengapa aku tak bergaul dengan teman-teman yang lain. Aku hanya menjawab aku gak PD. Namun, sepertinya Zahra tahu kalau aku minder untuk bergaul dengan mereka. Siang itu juga Zahra menanyakan tentang buku bersampul ungu-ku. Awalnya aku malu menjawab kalau itu kumpulan puisi karyaku tapi, aku kemudian menjawab dengan jujur. Zahra terlihat penasaran dan ingin meminjam buku itu. Sejak saat itu juga Zahra mulai dekat denganku. Dia selalu membaca puisi-puisi yang sering aku tulis. Sampai pada suatu hari, Zahra memberiku sebuah amplop berisi uang. Aku tak tahu itu uang apa. Zahra bilang kalau itu adalah royalti atas puisiku. Dasar Zahra, dia mengirim puisi ke penerbit.

Sejak bertemu dan mengenal Zahra aku merasa hidupku bermakna. Beberapa kali Zahra menemaniku menulis puisi. Bagiku Zahra lebih dari sekedar sahabat dan akupun merasa kalau diam-diam aku mencintainya. Tapi, belum sempat aku menyatakan cintaku, aku terpisah dengan Zahra. Di ujung SMA, aku menemuinya. Selama aku mengenalnya aku tak pernah memberinya sesuatu sebagai ucapan terima kasihku karena telah membangkitkanku. Di hari perpisahan itu, aku menuliskan puisi untuknya. Zahra membaca puisi itu dan meneteskan air matanya. Saat terakhir itu Zahra juga bilang kalau dia tak akan melupakan aku. Aku menahan air mataku melihat mata Zahra yang berkaca-kaca. Zahra kau adalah sahabat terindahku, sahabat terbaikku. Sampai kapanpun aku tak akan bisa menghapusmu dari otakku.

Tak ku sadari air mataku jatuh membasahi secarik kertas berisi puisi terakhir yang ku beri pada Zahra. Zahra semangatnya tak pernah mati. Cerianya akan selalu terkenang. Zahra apa kabarmu? Aku ingin bertemu denganmu? Apakah malam ini kau tahu aku merindukanmu? Apakah kau tahu malam ini aku membaca puisi terakhirku untukmu itu?

this story posted first time here

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar