27 Desember 2013

Kisah Merah Jambu-ku (Based on true story)

Dari dulu, hampir sekitar dua puluh satu tahun aku dilahirkan aku tidak pernah mau berurusan dengan hal yang kusebut "Merah Jambu" atau cinta.
Ada beberapa faktor yang membuatku menghindar dari hal beginian;
  1. Yang Pertama, aku merupakan salah satu orang yang nggak pede dan cenderung salah tingkah kalau dekat dengan orang yang aku taksir.
  2. Selanjutnya, aku tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya ada di hati meskipun aku tahu sejak duduk di bangku TK, SD, SMP, SMA bahkan saat kuliah aku menyukai sahabatku sendiri. Alasannya sih simple, aku nggak mau membuat persahabatanku rusak hanya gegara masalah beginian. Padahal, Ya tUhan... nyesek banget rasanya kalau liat si doi sama yang lain.
  3. Ketiga, aku tidak memiliki keberanian untuk memulai, sama halnya sih seperti yang di nomor satu. Begini, aku tuh termasuk orang yang want to know alias kepo banget kalau suka sama orang. Akun sosial medianya sampai nomor ponselnya sudah aku punya tapi, untuk memulai kenalan dengan berkedok tanya PR, salah kirim atau apalah susahnya minta ampun. Takut ketahuan!!!
Oke itu tadi intermezo aja sih. Sekarang aku mau cerita tentang merah jambuku di periode 2013 ini. Haha udah kayak kepengurusan aja pake periode segala.

Oke dimulai dari cewek pertama, sebut saja Lani. Hmmm inget bener pas petama liat dia waktu liburan, aduh Tuhan manisnya ngalah-ngalahin si Annisa Chiby. Dan dia adalah salah satu teman kampusku. Well, awalnya lancar bener deh. Kurang apa coba, pas minta nomornya dibantuin sama temen, pedekate di bantuin sama temen, curhat dan ngepoin si dia di bantuin sama temen, terus usahaku yang mana? Aduh. Usahaku sih, nyiapin mental buat jalan bareng, nyiapain tanggal yang pas buat.... Yah, I think you know what I mean-lah ya orang pedekate ujung-ujungnya mau ngapain.

Pedekate sudah cukup lama, mungkin satu bulan itu lama kan ya? Tapi, aku taksir sih nggak sampe sebulan tuh pdkt-nya. Seperti orang yang lagi PDKT kebanyakan, teleponan, SMSan dan lain sebagian lainnya tidak aku lakuin. Dan hingga malam itu. Hal itu terjadi. Jika kalian mengira ini adalah Happy Ending rasanya salah banget. Aku nggak nembak dia tapi cuma mastiin apa yang aku rasaian. Beberapa hari sebelum malam itu, aku memang sudah mulai ragu. Hingga malam itu benar saja, hubungan kami kandas di jalur telepon. Tidak pernah ada kata jadian, cuma pendekatan saja. Baik aku atau dia sama-sama tidak ingin melanjutkan. Dia ragu denganku (mungkin) tapi, di sini aku yang lebih sakit. Bagaimana tidak, seumpama aku jadian terus dia masih dekat sama orang yang pernah dekat dengannya, mau dibawa kemana hubungan kita setelahnya. Oke, itu cerita merah jambu-ku yang pertama.

Kedua, awalnya aku nggak pernah percaya kalau aura senior itu terpancar kuat di mata junior. Tapi, nyatanya? Aku membuktikan hal ini. Namanya Nana (samaran) dia adalah mahasiswa baru di kampus, sempat kubentak saat hari pertama masuk (pra -ospek). Tapi, ah mungkin aku kemakan omongan sendiri. Iseng-iseng stalking, aku follow aja akun Twitternya dan DM melayang di akunku. Dari Nana. Kami mulai berhubungan sebatas Direct Message hingga akhirnya menjadi Short Message Service. Jujur, aku yang meminta nomornya duluan, berhubung anaknya imut-imut kayak JKT48. Maklumlah ya lama di Jepang mungkin si doi(?).

Singkat cerita dan belajar dari pengalaman, aku mencoba berjalan sendiri. Aku berhubungan dengan dia tanpa sepengetahuan siapapun termasuk teman dekat sendiri, ya meski akhirnya ketahuan juga sama beberapa orang. Hih. Anaknya enak banget, nyambung dan nggak garing. Hingga akhirnya kami jalan bareng dan itupun cuman sekali dan doi yang kode-in aku buat ngajak keluar, meski ada alibi segala macam. Di jalan bareng pertama anaknya cerewet banget, ada aja yang mau diomongin, ini dan itu. Tapi, buat aku pribadi itu adalah nilai tambah karena sejatinya aku bukan dilahirkan untuk sebagai si pembicara tapi, sebagai pendukunglah biar susananya nggak garing. Hingga suatu hari, she asked me something that i should answered. Katanya, "Do you have any feeling for me?". Terus aku jawab juga, "Yes, I have. What about you? How?" tanyaku. Katanya nggak apa-apa dan dia nggak mau jawba pertanyaanku. Sampai akhirnya aku bikin dia ngerasa bersalah dengan nggak ngejawab SMSnya. Sampai akhrnya aku tahu, dia belum siap dan masih nunggu waktu. How long? Entahlah yang jelas, sepertinya dia nolaj aku secara halus. Mungkin karena aku menjawab, "If you make realtionship with me, I will serious with this, because I wanna make this to the seroius relationship (
Hmmm nggak terasa juga udah banyak banget ini tulisan yang aku tulis di sini. Itulah dua kisah merah jambu yang mewarnai hidupku di tahun 2013 ini. Well, meski ending-endingnya I dont have anyone, tapi se-nggaknya aku belajar dari apa yang aku alami itu. Aku jadi tahu bagaimana mencintai, dicintai, mengambil sebuah keputusan, menolak sebuah keraguan dan tidak mengikuti kata hati yang masih belum fix di tempatnya.

Begitulah cinta, kadang emang manis banget pas awal tapi kita tidak tahu kapan manisnya itu akan berakhir. Nggak salah kita gagal saat PDKT-an, itu artinya naluri kita sudah mendeteksi bahwa, she/he is not your right!


Ditulis dari hati,

AD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar